Sabtu, 14 Maret 2009

LAHAN BASAH DI DESA TUNGKARAN, KECAMATAN MARTAPURA TIMUR KALIMANTAN SELATAN

Oleh: Rahayu Lina Rahmawati

Area lahan basah di Indonesia sangat luas dan banyak, hampir seluruh daerah di Indonesia memilikinya, ada yang sudah mengalami alih fungsi dan ada juga yang masih alami. Menurut konvensi RAMSAR, lahan basah (wetland) diartikan sebagai lahan yang secara alami atau buatan selalu tergenang, baik secara terus-menerus ataupun musiman, dengan air yang diam ataupun mengalir. Air yang menggenangi lahan basah dapat berupa air tawar, payau dan asin. Tinggi muka air laut yang menggenangi lahan basah yang terdapat di pinggir laut tidak lebih dari 6 meter pada kondisi surut.

Gambar 1: area lahan basah di Desa Tungkaran Kec. Martapura Timur, Kalsel

Salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki area lahan basah adalah Kalimantan Selatan. Di daerah ini banyak ditemukan area lahan basah seperti lahan gambut, rawa air tawar, hutan bakau, rawa pasang surut. Contoh lahan basah di kawasan Kalimatan Selatan dapat ditemukan di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura Timur. Kawasan ini terletak pada titik koordinat 3 37'22.8"LS - 114 42'09.2" BT. Lahan basah di desa tersebut dapat dimasukkan ke dalam tipe rawa air tawar, karena lahan basah tersebut digenangi maupun dialiri oleh air tawar yang melintas dan menuju sungai besar yang ada di sekitarnya.

Untuk menuju area tersebut jarak yang ditempuh sekitar 5 km dari kota Martapura atau dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan menggunakan sepeda motor. Di sepanjang jalan banyak ditemukan tambak-tambak ikan milik warga setempat. Mereka membudidayakan ikan air tawar seperti ikan nila, patin, mas, dan bawal. Ketika sampai, sepanjang mata memandang hanya terlihat hamparan luas tumbuhan eceng gondok dan beberapa tumbuhan liar yang juga tumbuh di sana. Daerah tersebut hanya dipisahkan oleh jalan raya yang telah dibuat oleh pemerintah setempat. Eceng gondok yang hidup di sisi kiri dan kanan jalan tumbuh sangat subur , hampir seluruh area tertutupi oleh tumbuhan ini, sehingga tidak ada celah bagi kapal (jukung) untuk melintasi area tersebut. Kondisi lingkungan di sana masih baik, belum terjadi pengalihan lahan basah yang sangat signifikan. Warga setempat hanya membuka lahan basah di sekitarnya untuk area tambak ikan. Hanya saja, Kondisi air yang dekat dengan sisi badan jalan mulai tercemar akibat limbah rumah tangga dan kurang sadarnya warga akan lingkungan sekitar sehingga banyak sampah yang bertumpuk di pinggiran jalan. Bagi warga yang memiliki hobi memancing area ini sering digunakan untuk menyalurkan hobi. Menurut pengakuan bapak Fadil, beliau sering memancing di area tersebut untuk menyalurkan hobi. Jenis ikan yang dapat di pancing di sana diantaranya adalah ikan sepat siam, pepuyu dan haruan.

gambar 2: tumbuhan eceng gondok

Gambar 3: tumbuhan teratai putih

gambar 4: tumbuhan kangkung

Selain eceng gondok terdapat tumbuhan lain yang juga hidup di sana seperti tumbuhan kangkung air, teratai putih, padi, kelakai, dan beberapa jenis tumbuhan liar lainnya. Jika ingin menemukan tumbuhan tersebut cukup berjalan beberapa meter dari lahan yang ada maka akan ditemukan area yang lebih luas dengan kondisi yang berbeda. Perbedaan kondisi alamnya terlihat dari pertumbuhan eceng gondok yang tumbuh berkurang dan di gantikan oleh tumbuhan teratai putih serta tumbuhan kangkung air, beberapa warga telah membuka lahan untuk di tanami padi. Di tengah-tengah rawa di temukan beberapa gubuk yang telah rusak, diperkiraan gubuk-gubuk tersebut digunakan untuk menjaga lahan. Rusaknya gubuk-gubuk tersebut di karenakan banjir yang sering melewati lahan ini. Hewan yang hidup di sana selain ikan sepat, pepuyu, dan haruan juga ada bebek yang sengaja di pelihara oleh warga.

Gambar 5: Tumbuhan air yang hidup di lahan basah

Lahan basah di desa Tungkaran sebenarnya dapat dimanfaatkan baik dari segi ekonomi, ekologi maupun budaya. Manfaat dari segi ekonomi yaitu lahan basah di sana dapat digunakan untuk membudidayakan hewan maupun tumbuhan yang bermanfaat. Misal lahan basah tersebut digunakan untuk budidaya ikan air tawar sehingga dapat meningkatkan penghasilan warga setempat. Selain itu tumbuhan eceng gondok dapat dimanfaatkan untuk kerajinan seperti pembuatan tas, sandal, tikar, dsb. Tumbuhan kangkung, padi, kelakai dapat dapat dijual maupun dapat dikonsumsi oleh warga untuk memenuhi kebutuhan. Manfaat dari segi ekologi, dengan adanya lahan basah maka dapat menjaga ekosistem lingkungan perairan sehingga kelangsungan hidup hewan maupun tumbuhan di sana tetap terjaga dengan baik, selain itu area tersebut menjaga habitat yang ada agar tidak punah. Manfaat dari segi budaya yaitu sebagai penduduk Kalimantan yang dominan hidupnya di atas air keberadaan lahan basah sangat mempengaruhi aktivitas penduduk karena segala bentuk kegiatan di lakukan di sana. Sehingga keberadaan lahan basah sudah menjadi bagian dari budaya penduduk Kalimantan.

Ditinjau dari segi ilmu farmasi keberadaan lahan basah ikut berperan dalam penemuan obat baru dari bahan alam, sesuai dengan visi Program Studi Farmasi F-MIPA Unlam yaitu menjadi lembaga pendidikan tinggi farmasi unggulan dengan menerapkan ilmu dan teknologi secara optimal sehingga dapat menghasilkan SDM farmasi sesuai dengan tuntutan kompetensi serta memiliki keunggulan kompensasi global dengan ciri lingkungan lahan basah dan hutan tropis dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Maka keberadaan lahan basah dapat menunjang kegiatan penelitian untuk menemukan tumbuhan maupun hewan yang berkhasiat sebagai obat dan dapat di kembangkan menjadi produk obat bahan alam dengan teknologi yang memadai. Penelitian-penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memanfaatkan tumbuhan yang biasa hidup di lahan basah seperti tumbuhan kelakai, eceng gondok, teratai dan tumbuhan lainnya untuk diteliti kandungan senyawa aktif yang berkhasiat sebagai obat.

Keadaan area lahan basah di desa Tungkaran, Kec. Martapura timur Kalsel


gambar: Bapak Fadil dan hasil tangkapannya



gambar: area lahan basah di desa Tungkaran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar